Archive for the ‘Diary’ Category

Wide Awaking
January 10, 2010

wide awaking, start also stare at the so small turning pale him to greet morning, shy at her finger touch dream, simply dew even also still have the kindness to address him ..

persiflage will be vacuous, oblivious persiflage ripples, bold to likely mist to him, listening dumbness, in diffusing to whisper liver, is elaborated dinky also smile from is decent of him ..

it’s peace of gesture of leaves, blow wind is no overcoming combing him, really go the ex- liver, as great as longing far will near for him, eulogy awake, only is footstep so much its step it, and will never as worn out as fantacy about stain pattern colour ..

Kuliah Kerja Nyata (10 Februari 2009 -> 10 Maret 2009)
January 8, 2010

Sangkaan sebelumnya akan perasaan asing, lambat-laun pun tidak terasa lagi, karena ternyata hal itu pun secara perlahan berangsur menjadikan suatu kedekatan yang sangat berkesan didalam hidup ini. Ketika bisa mengenal mereka lebih jauh, saling berbagi dalam apa yang masing-masing dari diri kita miliki, hal itu juga lah yang ternyata bisa menciptakan perasaan nyaman untuk berinteraksi dengan mereka semua.

Sungguh suatu pengalaman yang tak akan pernah bisa terlupakan didalam hidup ini, dimana hal itu pun seakan telah mengikat, menjadikan seperti sebuah keluarga baru yang benar-benar harmonis.

Dan tentunya rasa terimakasih serta do’a yang tak terhingga lah yang mungkin bisa sedikit mewakili, sekedar balasan akan apa yang tidak akan bisa diganti oleh apapun itu yang bisa tersampaikan, ketika waktu benar-benar harus memisahkan kebersamaannya. Semoga apa yang telah terjadi, dan apa yang telah terbagi diantara kita semua, tentunya bisa menjadikan kita sebagai manusia yang mengerti akan arti kebersamaan, bisa memaknai sebuah anugerah kehidupan yang sangatlah langka kehadirannya dan hanyalah kerap bisa sekedar terharapkan oleh angan-angan.

Pengalaman hidup
January 7, 2010

Pengalaman kita akan sesuatu yang baru ataupun pada sesuatu yang biasa kita lakukan sebagai suatu rutinitas tentunya akan memberi kesan tersendiri dalam kehidupan kita, yang mungkin tidak akan pernah bisa tergantikan oleh sesuatu apapun yang seakan menyerupainya. Terkadang hal itu juga lah yang menjadi kebanggan kita untuk bisa menghadapi perjalanan hidup ini, seakan selalu menyertai kemanapun kita pergi, dan dimanapun kita menyandarkan harapan hidup kita ini. Ada kalanya juga kita bisa berbagi, menceritakan semuanya tentang apa yang kita rasa, karenanya tak heran jika pengalaman lah yang seakan membuat kita ini lebih dewasa dalam menjalani kehidupan ini. Pengalaman adalah masa lalu, baik buruknya pengalaman pun adalah anugerah, dimana kita bisa mengambil setiap hikmah atas terjadinya kejadian itu sebagai suatu pengalaman hidup kita, menjadikannya sebuah catatan atau referensi untuk menghadapi persoalan hidup yang sama, atau bahkan persoalan hidup yang baru sekalipun bagi hidup kita, seperti halnya masa kecil kita, masa remaja kita, masa dewasa kita, ataupun masa tua kita kelak.

Keberadaan pengalaman sebagai anugerah pun terkadang tak luput dari perasaan tanggapan kita yang menilai seperti apakah pengalaman yang telah kita dapatkan dari apa yang telah kita lakukan itu, sehingga pengalaman pun terkadang bisa menjadikan suatu mimpi buruk yang sulit untuk dilupakan selamanya, karena ternyata pengalaman yang telah kita alami tersebut adalah pengalaman akan kepahitan hidup kita. Disisi lain, kita justru akan selalu terhibur jika mengingatnya, serasa mampu memberikan energi positiv untuk setiap rasa lelah yang kita rasakan, jika ternyata pengalaman yang kita ingat itu adalah suatu pengalaman yang indah, menyenangkan, atau bahkan memberikan inspirasi baru untuk kehidupan kita.

Namun, semua itupun berbalik kepada tanggapan kita sendiri, apakah dan bagaimanakah kita akan menanggapi setiap pengalaman yang terjadi, yang kemudian berlalu didalam hidup kita, indah ataupun pahitnya, siapkah kita menanggapinya. Semua itu tergantung kepada kita yang memaknai pengalaman itu akan seperti apa dalam anggapan kita, karena kedua kemungkinannya pun adalah anugerah. apakah kita akan tegar, mengambil hikmah dari pahitnya pengalaman yang ternyata telah kita rasakan, ataukah kita akan merasakan keputusasaan yang terus-menerus dan berlarut, sehingga membatasi potensi diri kita untuk bisa berjalan lagi menjalani kehidupan yang lebih baik. Kemudian, apakah kita ini justru akan terlena, terlarut tanpa memikirkan tentang arti anugerah itu sendiri, ketika pengalaman yang kita rasakan ternyata adalah pengalaman hidup yang indah dan menyenangkan. semua tanggapan itu hanya kita yang berhak memberinya, namun semua tanggapan itupun pasti akan ada pertanggungjawabannya, jika kita mampu memahami tentang arti pengalaman itu sendiri sebagai suatu anugerah.

Al–Ittihad 12/02/09
January 5, 2010

Pesan tatapan mereka mengering dalam kebisuan kedekatan sesaat, ruang harapan begitu mengulas haru tetesan kesedihan, pundak kepercayaan pun tertegur dalam jarak kesibukkan, menempuh hari hitungan jari, gegas langkah yang terlalu sulit yg bisa tercuri kini sudah beralasan, meski hanya terwakili sebaris catatan sedikit arti.

Keterasingan <– kepercayaan
January 5, 2010

Kita seperti terjebak dalam ketatnya himpitan keterasingan, ketika rasa kepercayaan yang sebelumnya ada, kini ternyata tidak lagi memihak pada diri kita. Terasa sulit memang, untuk mengembalikan semuanya, sebelum kita mampu membuktikan semua itu dengan sesuatu yang berarti,  sesuatu  yang  bisa membuat  mereka percaya, bahwa pendapat kitapun sebenarnya berpijak pada pijakan yang sama dengan mereka. Dimana  selalu  dan  selalu  saja  ada  anggapan  yang  membedakan,  seolah-olah hanya terdapat satu kebenaran yang berlaku didalam kehidupan ini.

Mencoba menemukan jalan mana yang tidak terlalu terjal untuk sekedar kita melangkah, agar tidak bersinggungan dengan keadaan mereka yang masih merasakan  gelap  akan tatapan untuk semua  maksud  yang  kita  pahami. Melaluisetiap kepedihannya, mengakui kesalahan  juga bukan merupakan jalan terbaik dalam hal ini, karena hakikat kehadiran ini pun nyata dan telah mengerti bahwa kebebasan berpendapat itu syah, selama pendapat tersebut adalah pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Harapan kepercayaan
January 4, 2010

Keberadaan kita yang terikat dalam kebersamaan hidup bersama ternyata seringkali tidak didasari oleh kesamaan rasa pula, pandangan ataupun pengertian akan hak-hak individunya. Adanya perbedaan memang terasa wajar, tetapi tidak untuk perbedaan yang menyalahi aturan, yang terlalu jauh menyimpang dari batas-batas kebaikan. Juga kebebasan yang telah ada didalam kebersamaan hidup itu tentunya diharapkan dapat memenuhi hak-hak individu tersebut, dimana kebebasan tersebut adalah kebebasan yang wajar adanya dan tidak berlawanan dengan kebebasan-kebebasan yang lainnya.

Kepercayaan yang telah diberikan oleh sekian ucapan kepercayaan ternyata hanya tinggal janji yang beterbangan diatas angan-angan jiwa-jiwa yang mendambakannya. Tak salah jika ternyata harus ada satu atau beberapa jiwapun yang ternyata harus berteriak untuk sekedar meneriakan kekecewaan itu. Karenanya mengertilah wahai engkau para sosok kepercayaan ..

Ketenangan jiwa
January 4, 2010

Apakah ketenangan jiwaku saat ini mampu menahan separuh berat beban ujian yang sedang melanda ataukah justru akan membuatku lupa akan semua tanggung jawabku sebagai seorang manusia yang mempunyai kepercayaan.